5 Hal Penting dalam Bisnis Properti Syariah

0
161

5 Hal Penting dalam Bisnis Properti Syariah

Bisnis properti merupakan salah satu bisnis yang sangat menjanjikan. Profit yang besar dengan harga unit yang hampir tidak pernah mengalami penurunan harga, membuat bisnis ini banyak diincar para pelaku bisnis.

Di tengah maraknya bisnis properti, berkembanglah bisnis properti syariah yang semakin hari semakin banyak diminati oleh masyarakat. Namun, untuk mengembangkan bisnis properti syariah ini terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pihak developer:

  1. Harus Terhindar dari Riba dan Praktik yang Dilarang Menurut Syariat Islam

Salah satu syarat menjalankan bisnis properti yaitu terhindar dari hal-hal yang dilarang menurut syariat Islam, salah satunya riba. Jadi praktik pinjaman dana yang berpotensi menimbulkan riba atau bunga dilarang dilakukan di seluruh tahapan pembelian atau penyewaan unit properti.

Pengembang juga tidak diperbolehkan melakukan transaksi peminjaman berbunga dengan bank konvensional. Jika memang harus menggunakan fasilitas KPR (Kredit Perumahan Rakyat), maka bank yang diajak bekerja sama haruslah merupakan bank syariah.

  1. Harus Memastikan bahwa Unit yang Dijual Ditujukan untuk Hal yang Syariah

Selain proses pembiayaan yang harus mengikuti kaidah dan syariat Islam, unit yang diperjualbelikan juga harus ditujukan untuk hal-hal yang syariah, misalnya sebagai hunian keluarga atau indekos khusus putri atau putra. Sebagai pemilik kos maka Anda harus memastikan bahwa peraturan yang Anda terapkan berbasis syariat Islam agar penghuni kos nyaman berada di indekos Anda

  1. Harus Menggunakan Akad Syariah

Bisnis properti syariah juga harus menggunakan akad syariah. Tidak dibenarkan menggunakan akad jual beli atau penyewaan yang mengandung unsur bunga seperti pada pinjaman dana bank konvensional.

Di dalam praktik KPR syariah yang menjadi salah satu bagian bisnis properti syariah, terdapat dua jenis akad yang sering digunakan yaitu murabahah dan mutanaqishah. Murabahah yaitu unit properti yang diinginkan oleh nasabah dibeli oleh bank syariah lalu pihak bank menjualnya kepada nasabah dengan harga yang sudah ditambah keuntungan bank. Jadi harga unit sudah ditentukan di awal, sehingga tidak ada unsur ketidakpastian. Pada akad ini, pembeli tinggal membayar cicilan dengan jumlah tetap selama kurun waktu tertentu yang telah disepakati.

Sedikit berbeda dengan akad murabahah, akad mutanaqishah didasarkan pada kerja sama antara pihak pengembang dengan pembeli dengan porsi masing-masing. Selanjutnya unit properti akan disewakan dengan bagi hasil. Jika unit properti ini akan digunakan sendiri oleh pembeli, maka pihak pembeli harus membayar porsi yang dibayar bank melalui cicilan setiap bulan sesuai jangka waktu yang telah disepakati di awal.

  1. Harus Terhindar dari Praktik Monopoli

Di dalam bisnis properti syariah juga tidak diperbolehkan melakukan monopoli atau menjadi pemain tunggal di dalam bisnis tersebut. Selain itu, di dalam praktik bisnis properti syariah juga tidak boleh menimbulkan gharar atau ketidakpastian dalam transaksi jual beli unit properti.

  1. Harus Terbebas dari Praktik Risywah (Suap)

Dalam menjalankan bisnis properti syariah juga harus terbebas dari praktik suap-menyuap karena risywah atau suap merupakan salah satu hal yang tidak dibenarkan di dalam syariat Islam. Ingat bahwa kejujuran penting dalam sebuah bisnis. Jauhkan diri dari suap menyuap / risywah agar bisnis senantiasa lancar dan sesuai syariat islam.